Wanita Dalam Bulan

moon_34593

Namaku Fikri, kata Ayahku nama itu diberikan supaya aku tumbuh menjadi anak yang suka berfikir. Sebab di Indonesia ini, kata Ayah, banyak orang-orang yang malas berfikir, jadi malas bekerja sehingga banyak pengangguran, lalu banyak kemiskinan dan berakhir pada kerusuhan. Ayah tidak mau aku jadi orang miskin, makanya aku harus banyak berfikir, sesuai namaku, Fikri

Tapi, orang-orang disekitar sering memanggilku Abu (Anak Buangan), tapi aku tidak mau menyahut atau berpaling kalau mereka menyebut namaku Abu, karena kata Ayah, namaku Fikri tidak boleh berubah dan tidak akan pernah. Aku tinggal di sebelah gedung mewah dan bertingkat, aku lupa tingkat berapa, tapi yang pasti tinggi sekali hampir mencapai langit. Kami sering menyebutnya sebagai pagar untuk rumah-rumah kecil kami di sebelah rel dan kolong jembatan

Kalau dulu, waktu zamanya kampanye, lingkungan tempat kami tinggal sangat ramai, sering dikunjungi calon presiden, wali kota dan anggota dewan. Bahkan, Ayah pernah berhenti memulung, karena kata Ayah, uang-uang sumbangan dari mereka cukup untuk makan sebulan. Momen-momen kampanye lebih kami rindukan, sama seperti lebaran

“ Ah Sial, sepatuku” Aku kesal sambil mengatur nafas pelan-pelan. Kami biasa berlomba-lomba mengalahkan kecepatan kereta api saat pergi sekolah, selain ini menyenangkan, juga bisa mempercepat kami sampai ke Sekolah.

“ ha ha ha, sudah ku bilang pakai sandal aja” Jerit Odoy dari kejauhan, mereka terus berlari, walaupun tidak pernah mengalahkan laju kereta api, seimbang saja sulit.

Akhirnya terpaksa aku melepas kedua sepatu dan ke sekolah dengan kaki Ayam. Tapi ini sudah hebat, sepatu yang dibeli Ayah 5 tahun lalu, baru sekarang rusaknya, nyaris tidak bisa digunakan lagi, karena tapaknya sudah tidak ada lagi.

Sampainya di sekolah, nyaris aku dimarahi guru, karena masuk kelas tanpa alas kaki. Tapi aku tak marah, apalagi kesal pada guru karena aku memang salah ke sekolah tak pakai sepatu. Ayahku juga salah sebab tak membelikan ku sepatu baru, dan kata Ayahku dia tak sepenuhnya salah, Pak presiden juga ikut salah, kenapa orang miskin seperti kami belum dapat kartu Indonesia pintar. Padahal aku selalu juara kelas.

“ Fik, baju kamu berapa? “ tanya Odoy sambil mengulum permen. Aku yang sedang asyik baca komik Naruto langsung terhenti, sambil berfikir, membayangkan lemari kardusku di rumah dan menghitung jumlah baju.

“ Banyak Doy” jawabku santai

“ 10?” Odoy mulai penasaran

“ Ya lebih dong” kali ini aku fokus pada komik Naruto

“ Itu semua baru kan, Ibumu mengirimnya dari Luar negeri ya?

“ Ya enggak lah, baju lama, sebagian sudah ada yang robek dan copot kancingnya.” Odoy yang mendengar jawabanku langsung kecewa

“Kemarin Ibuku membelikan 2 pasang baju, dia dapat bonus banyak katanya” dengan bangga Odoy menceritakan baju barunya, dari mulai model dan mereknya.

Dan aku, jadi lemas serta sedih, bukan karena tidak punya baju baru, tapi tentang Ibu. Ayah sudah berkali-kali berbohong soal Ibu. Katanya Ibu ke luar negeri, pulang kampung dan terakhir kata Ayah, Ibuku sudah meninggal.

Beda lagi kata orang-orang, kata mereka aku tak punya Ibu, karena aku ini anak buangan, yang ditemukan di dekat tong sampah saat Ayah memulung. Tapi kata Ayah mereka bohong, aku pun percaya kata Ayah. Meski sejujurnya aku tahu itu benar, hanya saja aku menunggu Ayah jujur tentang Ibu

Hari ini aku akan tanya Ayah lagi, aku ingin tahu siapa Ibuku, tak peduli dimana dia, kalau masih hidup aku ingin mencarinya, kalau sudah meninggal, aku akan cari kuburannya. Aku akan tanya, kenapa dia membuangku, tidak, bukan itu saja, aku ingin cerita tentang baju baru, juara kelas dan hobiku membaca komik Naruto

***
“ Yah, sebenarnya siapa Ibuku, dimana dia? “ tanyaku sambil berlinang air mata.

Sontak Ayah terkejut, seperti biasa langsung memelukku. Ku rasa ini momen indah, yang mungkin tidak dimiliki semua anak. Bahkan anak-anak yang tinggal di gedung betingkat itu, karena kata Ayah, mereka anak-anak kesepian, punya Ayah tapi selalu sibuk. Pergi pagi pulang malam

“ Ayo kita keluar” ajak ayah sambil menggandeng tanganku, aku pun mulai senang, apa Ibuku sudah datang dan dia menunggu diluar. Senangnya lebaran ini aku punya Ibu

“ Ibu sudah datang ?” aku bertanya girang. Dan Ayah hanya tersenyum

“ Iya” ujar Ayah

“ Mana Yah” aku penasaran, karena diluar tidak ada siapa-siapa

“ itu disana” Ayah menunjuk ke arah bulan. Indah sekali, bulanya bulat sempurna

“ kamu tahu sosok yang sedang duduk di bulan itu? Itu Ibumu” Wajah Ayah berubah, dia menangis. Aku memang melihat ada gambar orang di tengah-tengah bulan, dan kata Ayah itu Ibuku. Tapi mana mungkin, soalnya sosok itu terlihat seperti laki-laki. Ah tapi aku tak peduli. Aku ingin percaya Ayah sepenuhnya, dia sudah kelihatan putus asa, setidaknya kata Ayah aku punya Ibu dan dia ada di bulan.

“ Yeh aku punya Ibu” aku girang. Bukan., lebih tepatnya pura-pura senang. Aku tak ingin Ayah sedih, aku ingin percaya sepenuhnya pada Ayah, karena hanya dia yang ku punya

Sekarang aku punya Ibu, sambil menatap bulan ku bayangkan sosok wanitalah yang ada dalam bulan. Dengan begitu, aku yakin itu Ibuku. Di tengah hening malam, ditemani suara jangkrik dan gelak tawa para pengangguran di samping rel kereta api, aku menatap bulan sambil bicara panjang lebar.

“ Bu, aku tak marah kalau kau memilih tinggal di bulan. Yang penting sekarang , aku bisa melihatmu” aku tersenyum penuh luka, duka dan suka. Yang mana lebih dominan, aku tak tahu. Melihat aku bercakap-cakap setiap malam pada bulan. Orang-orang mulai gusar, katanya aku gila.

“ Dasar sinting, mana ada Ibunya di dalam bulan” kata orang-orang padaku. Tak peduli, karena hidup bukan untuk mendengarkan apa yang orang bilang.Di dalam bulan ada wanita, dan dia Ibuku. Titik. Aku percaya itu, dan kurasa Tuhan tak keberatan.

Tapi, saat musim hujan aku mulai kesepian, karena awan hitam sering menutupi tempat tinggal Ibu, sehingga aku tak bisa melihatnya

“ Tuhan, izinkan aku melihat bulan setiap malam” pintaku dalam doa.

 

 

alfata21

About

View all posts by