Radikalisme di Media Sosial

 

cara-melawan-propaganda-radikalisme-melalui-situs-web-dan-media-sosial-768x470

Saat ini media sosial bukan lagi hal baru, orang-orang lebih banyak berselancar di dunia maya dari dunia nyata. Kendati pun jasad kita ada di bumi, tapi jiwa kita sedang bersosial di dunia bernama maya. Maka tidak heran jika terjadi pergeseran fungsi dari media sosial, yang tadinya untuk mendekatkan yang jauh, kali ini bisa saja menjauhkan yang dekat. Bukan hanya itu, media sosial menjadi market baru bagi dunia bisnis, kemudian banyak masyarakat yang mulai memasarkan barangnya ke media sosial, dan terjadi gaya hidup baru, yakni masyarakat semakin gemar belanja online. Namun, disisi lain, pergerakan aksi terorisme dan paham radikalisme pun memanfaat media sosial sebagai market yang potensial dalam mempengaruhi masyarakat, khususnya kaula muda.

Tanpa kita sadari, media sosial telah membawa perubahan di dunia nyata, terbukti banyak terjadi kejahatan dan aksi kriminal berawal dari media sosial. Sebagai anak muda, penulis mulai merasa khawatir dengan lajunya arus informasi yang tidak bisa lagi disaring di media sosial. Banyak tulisan-tulisan yang mengandung ujaran kebencian yang menggiring opini kita untuk menganut paham radikalisme.

Media sosial memang sangat potensial digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi seseorang, hanya dengan beberapa paragraf tulisan, tanpa berfikir panjang orang-orang bisa percaya. Ditambah lagi dengan minimnya minat baca masyarakat, cenderung membuat kita memahami sesuatu tidak sempurna. Misalnya dalam memahami konsep jihad, banyak status beredar yang menampilkan gambar anak-anak terbunuh di Palestina lalu dibubuhi dengan kata-kata provokatif dan ayat tentang jihad membuat banyak orang berkesan tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Kaula muda, khususnya masih sangat rentan dipengaruhi, keadaan psikologis yang masih labil membuat paham radikalisme mudah masuk. Oleh sebab itu penulis ingin menghoimbau agar kita hati-hati saat bermedia sosial, jangan mempercayai semua apa yang kita baca disana, mulailah cerdas menerima informasi. Kita harus punya benteng-benteng yang kokoh untuk menghadang paham redikalisme yang bisa saja, tanpa kita sadari telah kita anut.

ISIS contohnya, mereka memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam melancarkan aksi terorismenya, tidak segan-segan memposting foto dan video ke media sosial. Jika tidak dibentengi dari sekarang, kita tidak tahu kapan kita bisa terikut dan terpengaruh. Buktinya saja, ada pelaku teror yang mengaku mendapatkan infomasi-informasi melalui dunia maya.

Modal utama kita dalam memerangi aksi radikalisme di media sosial adalah menambah pengetahuan, kita yang muslim, pelajaran agama memang bisa kita dapatkan melalui google atau mesin pencarian lainnya, tapi akan lebih utama jika kita hadir langsung dalam sebuah pengajian yang terbuka, sehingga tidak memungkinkan terjadi kesesatan.

Budaya menuntut ilmu generasi kita sudah sangat rendah, pemahaman terhadap ilmu agama yang tidak sempurna bisa saja menjadi salah satu faktor mengapa kemudian banyak dari kita yang terjerumus dalam ajaran yang radikal. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan kerusakan, karena Islam adalah agama damai, jadi kalau ada orang yang beragama Islam terlibat dalam aksi teror, penulis ingin mengeingatkan, bahwa itu bukan Islamnya yang salah, tapi bisa jadi pelakunya yang salah memahami agamanya, tidak sempurna

Mirisnya lagi melihat gaya bermedia sosial anak muda hari ini, mudah sekali menyebarkan berita-berita hoax, misalnya berita pembantaian muslim oleh agama lain, atau sebaliknya, hanya dengan modal foto, kita langsung percaya. Padahal yang seperti inilah yang memancing kemarahan dan kebencian sekelompok orang dengan kelompok yang lain.

Radikalisme bukan soal agama, sama halnya dengan terorisme. Karena dalam agama lain pun mana ada yang membenarkan adanya kerusakan dan perpecahan. Kita mudah sekali terpropokasi, tidak mau mencari asal dan usul informasi yang kita dapat. Mulailah cerdas bermedia sosial, tulislah yang baik, yang ketika orang membaca statusmu, mereka mendapatkan aura positif.

Media sosial gunanya untuk memudahkan kita berkomunikasi, bukan sebaliknya karena media sosial, komunikasi kita jadi rusak. Kita terlalu mudah dalam mengutarakan pendapat, padahal kita bukan ahlinya, gemar mengomentari sesuatu, padahal kita sendiri tidak tahu pasti kebenarannya. Jadilah bijak yang menggunakan media sosial, jangan asal tulis, asal baca dan akhirnya salah paham

Aksi terorisme tidak bisa dipandang sebelah mata, hanya karena dia berjubah dan menggunakan jenggot lalu kita curigai sebagai terorisme, pemerintah harus merubah pandangan, jangan tertipu dengan gaya busana dan pemahaman terhadap agama yang salah, bisa saja pelaku teror sebenarnya menggunakan agama sebagai topeng untuk menyilaukan kita dari motif yang sebenarnya.

Mari berfikir out the box, aksi radikalisme sering kali dilihat sebagai ancaman untuk menghancurkan kerukunan umat beragama, tapi bukan tidak mungkin itu hanya topeng, misalnya agar Indonesia tidak aman dan ricuh dan akhirnya mempengaruhi investor asing, atau bisa saja dengan kacaunya kegaduhan yang terjadi di Negara kita, orang lain sedang meraup keuntungan, entah itu di bidang politik atau ekonomi.

Kembali pada persoalan media sosial, siapa pun kita dan apa pun agama kita, dalam hal menghadang paham radikalisme, kita harus bergandeng tangan. Jangan mau diaduh dengan informasi-informasi hoax yang menggunakan SARA sebagai topeng. Kita harus sadar, kalau masalah SARA sangat sensitif, itulah emngapa kita harus cerdas dalam menerima informasi dari media sosial.

alfata21

About

View all posts by