Hati-hati Asap Kendaraan Bermotor

awas-bahaya-asap-kendaraan-bermotor-bagi-ibu-hamil

Dari data Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia tercatat, jumlah kendaraan yang masih beroperasi di seluruh Indonesia pada 2013 mencapai 104,211 juta unit, naik 11 persen dari tahun sebelumnya (2012) yang cuma 94,299 juta unit. Peningkatan ini tentunya membawa dampak buruk bagi lingkungan, terlebih pada pencemaran udara, belum lagi masalah debu di jalan raya yang keduanya dapat merusak kesehatan. Bukan tidak mungkin di tahun 2016 ini, penggunaan kendaraan bermotor semakin meningkat, seiring dengan tuntutan kebutuhan transfortasi bagi masyarakat. Jika pengguna kendaraan bermotor semakin banyak, maka sudah barang tentu polusi udara semakin meningkat dan membahayakan.

Kita tidak boleh ambil remeh, soal asap kendaraan bermotor yang mencemari udara, disamping sulit mendapatakan udara segar karena minimnya pohon hijau yang tumbuh di sekitar kita, asap dari kendaraan bermotor akan menambah daftar semakin buruknya kualitas udara yang setiap hari kita hirup. Polusi udara bisa terjadi karena beberapa faktor, tapi yang paling dekat adalah yang disebabkan oleh asap kendaraan bermotor. Kadang kita tidak sadar, bahwa saat berada di jalan raya, potensi menghirup udara yang berpolusi semakin tinggi. sebab di samping kiri, kanan, depan dan belakang kita ada kendaraan bermotor.

Semua kendaraan bermotor yang memakai bensin dan solar akan mengeluarkan gas CO, Nitrogen Oksida, blerang dioksida dan partikel-partikel lain dan sisa pembakarannya. Unsur-unsur ini bila mencapai kuantum tertentu bisa menjadi racun bagi manusia atau hewan. Sebagai contoh gas CO merupakan racun bagi fungsi-fungsi darah dan SO2 dapat menimbulkan penyakit sistem pernapasan. Secara visual selalu terlihat asap dari knalpot kendaraan bermotor dengan bahan bakar solar, yang umumnya tidak terlihat pada kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin. Walaupun tidak terlihat mata, selama masih terhirup oleh hidung , maka udara yang polutan akan tetap jadi ancaman

Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya gas buang kendaraan bermotor menjadi rumitnya persoalan pencemaran lingkungan. Bukanya melindungi diri dari udara yang polutan, sebagian kita terlalu apatis, sehingga upaya untuk mengurangi polusi udara di lingkungan tempat tinggal masih minim. Padahal, selain asap,lalu lintas kendaraan bermotor, juga dapat meningkatkan kadar partikular debu yang berasal dari permukaan jalan, komponen ban dan rem. Setelah berada di udara, beberapa senyawa yang terkandung dalam gas buang kendaraan bermotor dapat berubah karena terjadinya suatu reaksi, misalnya dengan sinar matahari dan uap air, atau juga antara senyawa-senyawa tersebut satu sama lain.

Disamping tidak kasatmata. Proses polusi udara berlangsung cepat dan terjadi saat itu juga di lingkungan jalan raya, dan adapula yang berlangsung dengan lambat. Reaksi kimia di atmosfer kadangkala berlangsung dalam suatu rantai reaksi yang panjang dan rumit, dan menghasilkan produk akhir yang dapat lebih aktif atau lebih lemah dibandingkan senyawa aslinya

Kesadaran itu harus ditumbuhkan dari sekarang, kalaupun kita tidak bisa mengurangi polusi udara dengan mengurangi jumlah penggunaan kendaraan bermotor yang semakin meningkat. Kita bisa memulainya dengan melindungi diri. Saat berada di jalan raya, seharusnya kita menggunakan masker, setidaknya bisa menyaring dan menghindari kita dari udara yang polutan. Hal ini bisa menjadi kesehatan pernafasan kita, selain terhindar dari gas buang kendaraan bermotor juga bisa menghindari debu jalanan yang juga membahayakan.

Kita harus tahu. Kalau udara bersih merupakan salah satu kebutuhan akan semua makhluk hidup di bumi. Udara yang bersih jug akan berdampak bagi kesehatan manusia. Manusia bisa terhindar dari berbagai macam gangguan kesehatan, khusunya masalah pernapasan yang ditimbulkan oleh adanya polutan, bakteri dan virus yang terdapat di udara yang tercemar.

Saat seseorang baru saja berpindah tempat ke lingkungan yang baru, orang tersebut akan menghadapi kondisi udara yang berbeda. Manusia yang tinggal di tempat tersebut terkadang tidak bisa secara langsung mendeteksi adanya gas-gas polutan yang dapat membahayakan kesehatan ataupun keselamatan karena tidak semua gas polutan dapat tercium oleh indera penciuman manusia (Jati dan Lelono, 2013).

Pencemaran udara merupakan peristiwa masuknya zat, energi, atau komponen lainnya ke dalam lingkungan udara. Pencemaran udara akan berakibat pada penurunan kualaitas udara. Hal ini akan menyebabkan terganggunya kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pencemaran yang terjadi akibat aktivitas manusia pada umumnya terjadi di area kota-kota besar denga sector industry (pabrik). Sedangkan yang disebabkan oleh proses alam berasal dari letusan gunung berapi, kebakaran hutan dan badai berdebu (Sudarmadji, 2004).

Berdasarkan data Bappenas yang bekerjasama dengan Asean Development Bank dan Swiss Contact (2006), pertambahan kendaraan yang pesat terkait langsung dengan kondisi sistem transportasi yang buruk. Banyak orang terdorong untuk menggunakan kendaraan pribadi terutama sepeda motor karena ketiadaan transportasi umum yang aman, nyaman, dan tepat waktu. Akibatnya, kemacetan lalu lintas tidak dapat dihindari khususnya pada jam-jam sibuk.Tingginya laju pertumbuhan penduduk berdampak pada peningkatan jumlah transportasi sebagai sarana aktivitas dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya (Suhadiyah dkk., 2011).

Bagi kita masyarakat awam, mungkin akan menganggap remeh terhadap udara yang kita hirup, namun bagi kesehatan, polusi udara cukup adalah hal yang memprihatinkan. Dikutip dari situs kesehatan, ditulis bahwa permasalahan pencemaran udara khususnya timbal (Pb) telah mengkhawatirkan di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar. Hal ini didasarkan pada beberapa hasil pemantauan kualitas udara dengan parameter timbal (Pb) yang terkandung dalam bensin (premium).

Timbal (Pb) telah membawa dampak yang besar terhadap manusia maka diperlukan tindakan untuk mereduksi Pb dari udara. Penggunaan bahan bakar bebas timbale merupakan salah satu solusi yang bisa dilakukan, namun terdapat cara lain yaitu mereduksi Pb di udara dengan dengan menggunakan tumbuhan sebagai agen bioremediasi. Tumbuhan dapat dikatakan sebagai agen bioremediasi dalam mereduksi polusi timbal di udara bila mampu menyerap Pb namun tidak menunjukkan gejala kerusakan yang signifikan (Sulistyawati dan Sembiring, 2006).

Di lingkungan perkotaan akan sulit menemukan pohon-pohonan yang bisa menghasilkan udara segar, ditambah lagi dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang memiliki gas buang berbahaya bagi kesehatan. Penggunaan masker dapat menyaring gas atau partikel-partikel beracun lain yang bertebaran di udara seperti karbon monoksida,nitrogen dioksida, hidrokarbon, timbal dan karbon dioksida. Meskipun tidak maksimal, setidaknya bisa menjadi awal kesadaran untuk menjaga kesehatan dari polusi udara. Mari kita jaga keasrian udara dengan menanam pohon dan memilih kendaraan yang ramah lingkungan.

 

 

alfata21

About

View all posts by