Menanti Indonesia Bebas Korupsi

1470740313366159141

Beberapa waktu lalu penulis mengikuti kelas politik cerdas berintegritas yang diadakan oleh KPK. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih generasi muda yang cerdas dalam berpolitik, serta memiliki integritas, golnya sederhana, agar pemimpin masa depan yang akan di duduki oleh pemuda hari ini terbebas dari praktek korupsi. Hanya generasi muda, satu-satunya harapan yang tersisa, agar Indonesia kedepanya memiliki pemerintahan yang bersih, atau setidaknya angka korupsinya sangat rendah. Ibarat membengkokkan batang pohon, tentulah sangat sulit. Akan lebih muda jika membengkokkan ranting pohon yang masih lentur

Korupsi bukan hal tabuh lagi untuk dibicarakan, dari yang atas sampai bawah, dari mulai sembunyi dibawah meja sampai meja-mejanya ikut dikorupsi. Indonesia terus mengalami krisis kepercayaan terhadap para pemimpin. Satu persatu. Dari mulai DPR sampai perangkat desa sudah mulai mencicipi hasil korupsi.

Kesaktian pancasila dan kegagahan Undang-undang pun ternyata belum cukup ampuh untuk menghadang pergerakan korupsi yang semakin cepat. Hampir semua lapisan disentuh praktek korupsi, dari lembaga pendidikan sampai agama, lalu siapa lagi yang bisa dipercayai oleh rakyat untuk tetap menaruh harapan. Kepada siapa pula kita akan mempercayakan suara kita, kalau wakil rakyatnya pun sudah banyak yang tidak amanah

Indonesian Corruption Watch (ICW) melakukan pemetaan kasus korupsi di Indonesia periode Januari 2016 hingga Juni 2016. Sepanjang waktu itu, sebanyak 210 kasus ditangani dan 500 orang ditetapkan sebagai tersangka oleh 3 Intitusi penegak hukum. Pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ke 88 dari 168 negara yang diamati oleh lembaga Transparency International. Tentu ini bukan prestasi, ,malainkan data yang bisa dijadikan tolok ukur kalau Indonesia masih berada pada bayang-bayang korupsi

Bukan tidak berusaha, Indonesia sudah membentuk lembaga independen KPK dan masih lagi lembaga-lembaga lain yang tumbuh dengan tulus untuk memerangi korupsi. Aktivis-aktivis anti korupsi juga bermunculan, dengan maksud membantu mengurangi praktek korupsi. Namun semua itu tampaknya belum sebanding dengan besarnya peluang seseorang untuk melakukan korupsi.

Parahnya lagi, jika korupsi ini selalu menjerat pejabat-pejabat tinggi di negeri ini, baru-baru saja menjerat pejabat pajak, tidak ketinggalan kepala daerah, gubernur dan bahkan lembaga penegak hukum. Kesempatan korupsi sering kali datang pada kita yang punya kekuasaan, karena saat itulah terbuka celah untuk menyelewengkan wewenang

Tidak kalah pentingnya, partai politik juga sebenarnya ikut menentukan apakah korupsi bisa dihadang, setidaknya berkurang. Lahirnya kader-kader pemimpin negeri ini juga buah hasil dari partai politik, itulah mengapa partai politik harus bisa menjadi perahu yang menggiring kadernya pada pelabuhan kejujuran. Jangan sekedar mengumpulkan sebanyak-banyaknya kader untuk sebuah kemenangan

Kita tidak boleh lupa mengapa partai politik itu dibentuk, tentu bukan untuk memperebut kekuasaan belaka, ada misi dimana kesejahteraan rakyat harus dijunjung. Jangan sampai partai politik kehilangan ruh, tidak tahu kemana tujuannya. Pengkaderan para kader sangatlah penting, apalagi dengan latar belakang yang bervariasi, partai politik harus mampu menyatukan visi kadernya untuk mematuhi undang-undang dan pancasila

Hari ini panggung politik semakin ramai ditungangi, banyak masyarakat yang mulai mengkonvers profesinya menjadi politikus. Karena tampaknya pun menjadi politikus ada untungnya, apalagi kalau berhasil menduduki posisi di pemerintahan, gajinya lumayan cukup besar. Inilah salah satu faktor mengapa banyak orang berbondong-bondong menjadi politikus untuk meraup keuntungan belaka. Walaupun tidak semua.

Disinilah peran parta politik dibutuhkan, memberikan pendidikan politik yang santun dan beretika, mementingkan urusan rakyat bukan pribadi atau kelompok. Bukan sebaliknya, karena partai meminta ongkos yang mahal, setelah mendapatkan jabatan, akhirnya harus menabung uang untuk bisa membayarnya.

Bukan hanya pada tantanan politikus yang harus dididik oleh partai, untuk kalangan masyarakat biasa pun harus diajarkan tentang bagaimana integritas itu harus dimiliki. Jangan pula, generasi muda dipertontonkan dengan praktek korupsi yang seolah berjalan tanpa takut hukuman

Terkadang tanpa sadar, atau memang sudah jadi kebiasaan. Dari lembaga pendidikan korupsi itu muncul. Penulis masih hafal betul bagaimana peserta kelas politik cerdas berintegritas waktu itu saling bertukar informasi tentang keadaan kampusnya. Ada praktek korupsi yang dibiarkan karena sudah dianggap biasa. Lebih mirisnya karena semua diam

Satu lagi dilema, mengapa korupsi masih terus tumbuh, bahkan subur. Sikap skeptis masyarakat telah mematikan rasa kepedulian, kalau rasa peduli hilang maka ikut bersamanya pengawasan yang alpa. Kalau sudah tidak ada pengawasan, berarti penerima wewenang, dalam lingkungan apa pun, akan dengan mudah menyalahgunakan jabatannya untuk melakukan korupsi.

Kita barang kali lupa, kalau mendiamkan kesalahan juga sebuah kejahatan. Lihat saja, jika kita menemukan ada praktik korupsi lalu kita diam, takut dan tidak berani untuk mencegah atau melaporkan, maka jatuhnya adalah pengulangan. Sebab pelaku korupsi merasa aman dan tidak diawasi, tidak menutup kemungkinan besok melakukan korupsi lagi dengan jumlah yang lebih banyak

Upaya KPK dalam memberantas korupsi terus berlanjut, walaupun sebenarnya tidak memungkinkan jika KPK bekerja sendirian, mereka perlu bantuan dari kita, orang-orang yang sadar bahwa korupsi perlu dihadang pergerakannya lalu diberantas. Setidaknya dengan adanya pengawasan, peluang untuk melakukan korupsi semakin kecil.

Kita masih tetap menanti Indonesia bisa bebas dari korupsi. Di Hari Anti Korupsi International ini kita berharap, bangsa ini perlahan bisa terlepas dari praktek korupsi. Kita tidak bisa berharap seperti anak kecil yang menanti sosok heroik seperti spiderman, superman atau Peri yang bisa membasmi kejahatan dengan sekejap mata. Mungkin jika mereka benar-benar ada, Indonesia bisa bisa cepat bebas dari korupsi, tapi itu tidaklah sesuai adatnya

Bahkan kemerdekaan kita hari ini pun, bukan hasil dari kekuatan sihir, melainkan kekuatan para pahlawan yang bersatu melawan penjajahan, mereka mengorbankan keringat dan darah. Sama halnya dengan sistem demokrasi yang sedang kita anut, bukan kado yang tiba-tiba turun dari langit, demokrasi ada karena buah hasil dari perjuangan.

Begitu pula dengan korupsi, setidaknya sambil menanti Indonesia bebas korupsi kita ikut berperan mewujudkannya, dengan cara memilih pemimpin yang berintegritas, atau sederhananya memastikan diri sendiri dan keluarga punya sifat jujur dan berintegritas.

 

alfata21

About

View all posts by